Di Rusia dia diberitahukan bahwa umurnya hanya tinggal 2 tahun lagi
Penjual seafood di Rusia bernama Alexander Grishin, 33 tahun, telah bersiap untuk kehilangan kekasihnya yang telah bersamanya selama 10 tahun, setelah kekasihnya di diagnosa dengan kanker rahim stadium 3, dokter sudah memberitahukan tidak ada kemungkinan untuk sembuh kembali.
Tapi syukurlah karena keyakinannya untuk bisa sembuh, pasangan ini akan segera menikah pada akhir tahun ini. Operasi sukses di Singapura telah memberikan kesempatan hidup yang baru bagi wanita berumur 29 tahun ini, Inna Yunker.
Koki untuk sebuah taman kanak-kanak di Rusia ini pertama kali di diagnosa dengan kanker rahim 1 ½ tahun yang lalu. Ketika pertama kali diketahui, kanker sudah berada pada stadium akhir dan telah menyebar ke rongga perut bagian atas sehingga mempengaruhi ginjal dan saluran kencing juga.
Dokter di Valdivostok memberitahukan kepada Inna Yunker bahwa ia mempunyai 2 tahun untuk hidup. Ini karena jenis kanker rahim yang dideritanya adalah jenis yang tidak umum, dimana tumor nya bisa tumbuh sangat besar. Jenis kanker ini terjadi pada hanya sekitar 10% dari semua pasien yang menderita kanker rahim.
“Ukuran tumor di kedua ovariumnya saja secara teknis menyebabkan sangat sulit untuk melakukan operasi untuk membuang tumor itu,” kata dokter nya di Singapura, Dr Tay Eng Hseon, yang adalah direktur medis di Thomson Women Cancer Centre. Kesulitan ini ditambah lagi karena tumor di bagian kanan menekan ginjal dan saluran kencing Inna Yunker, hal ini menyebabkan resiko kemungkinan akan melukai organ lain selama operasi bertambah tinggi.
Setelah 2 kali operasi yang tidak berhasil dan 14 set kemoterapi di Rusia, Inna Yunker mengatakan bahwa dia sudah putus asa dan menunggu saat kematian saja.
Kemudian dia mengambil keputusan untuk datang ke Singapura setelah mendapatkan rekomendasi dari teman-teman yang telah pergi ke Singapura untuk mencari pendapatkan perawatan medis. Dia meminjam 1 milyar rubel (atau S$ 44,000) dari teman-teman dan saudara-saudara. Biaya yang dia keluarkan di Singapura totalnya adalah S$24,000.
“Saya sangat takut waktu saya datang ke Singapura, tapi saya juga berharap pada saat yang bersamaan, ini adalah harapan terakhir saya,” kata Inna Yunker, yang sebelumnya belum pernah bepergian keluar dari Rusia.
Selama operasi yang berlangsung 3 jam yang dilakukan awal bulan ini, dokternya merngambil 2 tumor besar – yang paling besar berdiameter 18 Cm – dan juga rahimnya, usus buntu, dan lapisan jaringan lemak di depan usus, yang dikenal dengan istilah omentum.
Dr Tay mengatakan: “Saya yakin bahwa semua tumor sudah diambill dan Inna Yunker dapat hidup secara normal setelah dia pulih dari operasi ini sekitar 3 bulan kedepan.”
Dia menambahkan bahwa Inna Yunker mempunyai 80 sampai 90% kemungkinan untuk benar-benar bebas dari penyakit yang sama selama hidupnya. Selain dari pemeriksaan rutin, Inna Yunker tidak perlu memakan obat. Jika sampai kambuh lagi, dia dapat melakukan operasi kembali, jika diperlukan.
Dalam wawancara kemarin, Inna Yunker yang terlihat lega berbicara mengenai rencana masa depannya: “Saya terkejut ketika menyadari saya akan baik-baik saja, saya tentu saja sangat bahagi, karena saya kira umur saya tinggal 2 tahun lagi.”
Ia berencana untuk menikah dengan kekasihnya tahun ini di pulau Russky, di luar valdivostok, diaman mereka tinggal bersama selama 8 tahun. Ia juga berencana untuk kembali bekerja – dia berhenti bekerja tahun lalu setelah di diagnosa menderita kanker.
“Saya juga mau mengubah hidup saya, saya mau menolong orang lain, tapi saya belum tahu bagaimana caranya. Waktu yang akan membuktikan.”
Diterjemahkan dari artikel di Koran Strait Times, Sabtu 21 May 2011
By Fiona Low
Tags: Dr. Tay Eng Hseon, kesempatan hidup penderita kanker, obat kanker, pasien kanker, rumah sakit sinagapura, thomson, Thomson Women Cancer Centre